Dari Kehilangan Pekerjaan Hingga Ikhtiar Untuk Kembali Berdiri
Sebuah kisah dari seorang Ikhwan di Cileungsi yang ingin kembali bekerja, mencari nafkah, dan berdiri dengan kemampuan sendiri.
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Perkenalkan, nama saya Adda Mubarak.
Saat tulisan ini saya buat, usia saya sekitar 52 tahun menurut kalender Hijriah.
Saya menulis ini untuk memperkenalkan diri kepada para Ikhwan yang mungkin selama ini mengenal nama saya melalui IkhwanPeduli.com, situs yang saya kelola.
Mungkin ada yang sudah mengenal saya.
Mungkin ada yang pernah bertemu dengan saya.
Mungkin ada yang hanya mengenal nama saya melalui tulisan-tulisan di situs ini.
Dan mungkin ada pula yang sama sekali belum mengenal saya.
Karena itu, izinkan saya menceritakan sedikit perjalanan hidup saya.
Bukan untuk membanggakan diri.
Bukan pula untuk mengeluhkan takdir.
Saya hanya ingin bercerita apa adanya.
Tentang perjalanan keluarga kami mencari lingkungan yang baik untuk belajar agama.
Tentang pekerjaan yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan.
Tentang kehilangan pekerjaan.
Tentang usaha yang belum berhasil.
Tentang beberapa musibah yang datang berturut-turut.
Dan tentang keinginan sederhana untuk kembali bekerja dan mencari nafkah dengan kemampuan sendiri.
Saya Terlahir dari Keluarga yang Sederhana
Saya berasal dari Pamanukan, Subang, Jawa Barat.
Saya terlahir dari keluarga yang miskin dan serba terbatas.
Karena itulah, setelah menikah saya langsung berpikir bagaimana caranya mendapatkan penghidupan yang lebih baik.
Saya mulai mencari tahu bagaimana caranya bisa bekerja ke luar negeri.
Bukan karena ingin hidup mewah.
Saya hanya ingin mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang bisa digunakan untuk menafkahi keluarga.
Qadarullah, Allah ﷻ memberikan jalan.
Saya akhirnya bisa bekerja di Arab Saudi sebagai sopir orang Arab.
Pekerjaan itulah yang kemudian menjadi bagian besar dari perjalanan hidup saya selama bertahun-tahun.
Saya bekerja, mencari nafkah, dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.
Alhamdulillah, Allah ﷻ memberikan kesempatan kepada saya untuk bekerja di sana dalam waktu yang panjang.
Namun ada satu hal yang baru benar-benar saya sadari setelah kembali ke Indonesia.
Selama puluhan tahun, keahlian utama saya adalah mengemudi.
Saya bukan orang yang memiliki bekal ilmu dan pengalaman yang kuat dalam berdagang.
Saya tidak tumbuh sebagai pedagang.
Saya tidak memiliki pengalaman panjang dalam mengelola usaha.
Maka ketika pekerjaan saya di Arab Saudi berakhir dan saya kembali ke Indonesia, saya harus belajar lagi bagaimana mencari jalan penghidupan.
Dari Pamanukan Menuju Cileungsi
Pada tahun 2014, ketika saya sedang berada di Arab Saudi sebagai pekerja migran, Allah ﷻ mempertemukan saya dengan sebuah lingkungan dakwah yang membuat saya kemudian mengenal bahwa di Indonesia pun ada tempat untuk belajar Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat.
Tempat itu adalah Cileungsi, Bogor.
Saat itu saya berada jauh dari keluarga.
Saya bekerja di Arab Saudi dan berusaha mencari nafkah untuk istri dan anak-anak.
Namun di tengah kehidupan sebagai pekerja migran, saya mulai memiliki keinginan agar keluarga saya juga mendapatkan lingkungan yang baik untuk belajar agama.
Saya berpikir:
“Kalau ada lingkungan seperti ini di Indonesia, mengapa keluarga saya tidak saya bawa ke sana?”
Akhirnya, setelah melalui berbagai pertimbangan, saya dan istri memutuskan membawa keluarga kami dari Pamanukan ke Cileungsi.
Pada tahun 2018, saya membawa istri dan empat orang anak ke Cileungsi.
Kami datang bukan karena sudah memiliki rumah.
Kami datang dengan mengontrak.
Yang kami bawa adalah keluarga, harapan, dan keinginan untuk mendapatkan lingkungan yang menurut kami lebih baik dalam belajar agama dan mendidik anak-anak.
Dari Satu Kontrakan ke Kontrakan Lain
Kami pertama kali tinggal di Cileungsi pada bulan Ramadan 2018.
Saat itu kami mengontrak rumah milik Haji Wandi, di sekitar dekat SD 07 Cileungsi.
Setelah itu, perjalanan tempat tinggal kami berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya.
Kami kemudian pindah ke kontrakan milik orang Majalengka.
Setelah itu pindah lagi ke kontrakan Pak Indra di Perumahan Cibubur Mansion.
Kemudian kami kembali berpindah ke rumah kontrakan di sekitar Warung Ibu Atin, sebuah rumah yang kami kenal dengan cirinya yang berwarna ungu.
Setelah itu kami pindah lagi ke rumah Umi Yoyoh, kakak salah seorang ustadz di Masjid Al-Barkah.
Dan akhirnya, setelah beberapa kali berpindah tempat, kami menempati kontrakan yang sekarang, yaitu rumah milik H. Bunyamin di Gang Swadaya.
Bagi sebagian orang, berpindah-pindah kontrakan mungkin terlihat sebagai sesuatu yang sederhana.
Tetapi bagi sebuah keluarga dengan empat anak, setiap perpindahan tentu memiliki cerita tersendiri.
Namun kami menjalaninya.
Sebab tujuan utama kami bukan mengejar kenyamanan dunia.
Kami ingin anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang baik.
Kami ingin keluarga memiliki kesempatan untuk belajar agama.
Kami ingin berusaha menjalani kehidupan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Setelah Keluarga Pindah ke Cileungsi, Saya Kembali ke Arab Saudi
Setelah istri dan anak-anak berada di Cileungsi, saya kembali melanjutkan pekerjaan di Arab Saudi.
Sebab berpindah tempat tinggal demi mencari lingkungan yang baik untuk keluarga tidak berarti kebutuhan hidup berhenti.
Anak-anak tetap membutuhkan makan.
Mereka membutuhkan pendidikan.
Rumah membutuhkan biaya.
Listrik harus dibayar.
Air minum harus tersedia.
Dan kebutuhan keluarga harus terus dipenuhi.
Maka selama bertahun-tahun saya menjalani kehidupan seperti itu.
Keluarga di Cileungsi, sementara saya bekerja di Arab Saudi.
Saya bekerja kepada seorang majikan yang sama selama kurang lebih 13,5 tahun.
Alhamdulillah, saya berusaha menjalankan pekerjaan dengan sebaik-baiknya.
Sampai akhirnya, setelah bertahun-tahun bekerja, Allah ﷻ menetapkan bahwa masa kerja itu harus berakhir.
Ketika Pekerjaan Itu Berakhir
Awalnya majikan meminta saya pulang ke Indonesia untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
Saya pulang.
Saya menjalani pemeriksaan.
Alhamdulillah, saya dalam keadaan sehat.
Namun setelah itu, majikan saya mengatakan:
“Mubarak, kita sampai di sini saja, ya. Karena kamu sudah bekerja dengan saya cukup lama, sekitar 13,5 tahun.”
Begitulah.
Hubungan kerja yang sudah berlangsung bertahun-tahun akhirnya berakhir.
Gaji terakhir saya sekitar Rp9.660.000 per bulan, kotor, dan masih dipotong untuk kebutuhan makan dan minum selama berada di Saudi.
Setelah pekerjaan tersebut berakhir, saya kembali ke Indonesia.
Dan sejak itu, saya tidak lagi memiliki pemasukan tetap seperti sebelumnya.
Saya Tidak Langsung Menganggur
Mungkin ada yang mengira setelah PHK saya hanya diam dan tidak berusaha.
Tidak.
Saya tetap mencoba.
Sekitar Oktober 2025 sampai Agustus 2026, saya mencoba mencari penghasilan dengan berjualan bakso ikan.
Saya berusaha memutar modal.
Saya mencoba mencari pembeli.
Saya mencoba bertahan.
Namun ternyata hasil usaha tidak sesuai dengan yang saya harapkan.
Modal yang saya keluarkan pun belum berhasil kembali.
Itu bagian dari perjalanan.
Ada usaha yang berhasil.
Ada usaha yang belum berhasil.
Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun.
Saya hanya belajar bahwa mencari rezeki memang membutuhkan kesabaran, perhitungan, dan terkadang kita harus berani mencoba jalan yang berbeda.
Dan di sinilah saya semakin memahami bahwa pengalaman bekerja sebagai sopir selama bertahun-tahun tidak otomatis membuat saya memiliki kemampuan berdagang.
Saya harus jujur terhadap kemampuan diri sendiri.
Saya harus mencari pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan yang saya miliki, sambil tetap terbuka untuk belajar.
Lalu, Mengapa Setelah Lama di Saudi Saya Tidak Punya Motor?
Mungkin ada Ikhwan yang bertanya:
“Mubarak, bukankah kamu sudah cukup lama bekerja di Arab Saudi? Mengapa sekarang tidak punya motor?”
Pertanyaan itu wajar.
Alhamdulillah, sebenarnya saya pernah memiliki sepeda motor.
Saya memiliki Honda matik yang saya beli pada April 2019.
Namun qadarullah, menjelang kepulangan saya ke Indonesia sekitar September 2025, motor tersebut dicuri.
Saat itu motor sedang dibawa oleh menantu saya.
Menantu saya kemudian masuk ke rumah kakaknya.
Motor ditinggalkan di luar.
Pada saat itulah maling datang dan menuntun motor tersebut pergi.
Ketika menantu saya keluar kembali, motor sudah tidak ada.
Motor yang selama ini kami miliki akhirnya hilang.
Saya tentu merasa sedih.
Tetapi saya berusaha menerima kejadian tersebut sebagai bagian dari takdir Allah ﷻ.
Belum lama setelah itu, saya kembali mengalami musibah.
Ketika sedang berusaha mencari pekerjaan, ada seseorang yang menawarkan pekerjaan kepada saya.
Saya percaya dan mengikuti tawaran tersebut.
Namun ternyata saya ditipu.
Handphone saya dibawa oleh orang tersebut.
Setelah mengambil handphone saya, orang tersebut kemudian meninggalkan saya di sebuah kawasan perumahan yang luas, yaitu Perumahan Raffles Hills Cibubur.
Jadi, ketika sekarang saya mengatakan bahwa saya membutuhkan motor dan smartphone, bukan berarti selama bertahun-tahun bekerja di Arab Saudi saya tidak pernah memiliki keduanya.
Saya pernah memiliki motor.
Saya juga pernah memiliki handphone.
Namun qadarullah, keduanya hilang dalam dua kejadian yang berbeda.
Saya tidak ingin menjadikan musibah tersebut sebagai alasan untuk terus mengeluh.
Tetapi saya tidak ingin kehilangan satu hal yang lebih penting: semangat untuk terus berusaha.
Kondisi Keluarga Saat Ini
Saat tulisan ini dibuat, usia saya sekitar 52 tahun menurut kalender Hijriah.
Saya tinggal bersama istri dan anak-anak di Cileungsi.
Kebutuhan hidup tetap berjalan meskipun pemasukan tetap sudah tidak ada.
Kontrakan sekitar Rp700.000 per bulan.
Listrik sekitar Rp200.000 per bulan.
Wi-Fi sekitar Rp150.000 per bulan.
Iuran sampah Rp30.000 per bulan.
Bekal sekolah dua anak sekitar Rp500.000 per bulan.
Iuran SMA sekitar Rp360.000 per bulan.
Iuran SMP sekitar Rp320.000 per bulan.
Air minum isi ulang sekitar Rp5.000 per galon, dan satu galon biasanya habis sekitar dua hari.
Itu baru sebagian kebutuhan.
Belum termasuk beras, lauk-pauk, gas, transportasi, kebutuhan rumah tangga, kesehatan, dan kebutuhan sekolah lainnya.
Ada pula kebutuhan pendidikan yang sampai saat ini belum mampu saya selesaikan.
Dua anak saya saat ini masing-masing berada di kelas 3 SMP dan kelas 3 SMA.
Biaya daftar ulang untuk masing-masing anak lebih dari Rp2.000.000.
Sampai tulisan ini saya buat, biaya tersebut masih belum mampu saya bayarkan kepada pihak sekolah.
Sebagai seorang ayah, tentu saya ingin pendidikan anak-anak tetap berjalan dengan baik.
Tetapi keadaan memang sedang tidak mudah.
Saya Ingin Kembali Bekerja
Saya tidak ingin terus berada dalam keadaan seperti ini.
Saya ingin bekerja.
Saya ingin mempunyai penghasilan.
Saya ingin memenuhi kebutuhan keluarga dari hasil keringat sendiri.
Selama ini kemampuan utama saya adalah mengemudi.
Karena itu, saya sedang mempertimbangkan beberapa pilihan pekerjaan yang realistis dan halal.
Salah satu pilihan yang paling memungkinkan bagi saya adalah menjadi pengemudi ojek online.
Namun saya juga ingin jujur bahwa belakangan ini saya banyak mendengar keluhan dari para driver ojek online dari berbagai aplikasi.
Ada yang mengeluhkan pendapatan.
Ada yang mengeluhkan biaya operasional.
Ada yang mengeluhkan persaingan.
Ada pula yang harus bekerja cukup lama untuk mendapatkan penghasilan yang mencukupi.
Karena itu saya tidak ingin menggambarkan menjadi driver online seolah-olah pasti mudah atau pasti menghasilkan banyak uang.
Saya harus mempertimbangkannya dengan matang.
Tetapi di sisi lain, saya juga harus mencari jalan.
Saya tidak ingin hanya menunggu datangnya pekerjaan.
Saya ingin mencoba membuka beberapa pintu ikhtiar, selama pekerjaan tersebut halal dan memungkinkan untuk saya jalankan.
Usia saya memang tidak lagi muda.
Namun insyaallah saya masih diberikan kesehatan dan kemampuan.
Selama Allah ﷻ masih memberikan kekuatan, saya ingin menggunakannya untuk bekerja.
Sarana Kerja yang Saya Butuhkan
Untuk pilihan pekerjaan seperti ojek online maupun taksi online, tentu saya membutuhkan kendaraan.
Saya berharap dapat memiliki sepeda motor baru yang sederhana dan ekonomis, kurang lebih sekelas Honda Supra 125.
Saya memilih motor baru karena ingin memulai pekerjaan dengan kendaraan yang kondisinya baik dan tidak langsung terbebani masalah kendaraan bekas.
Motor tersebut nantinya bukan untuk gaya hidup.
Selain motor, saya juga membutuhkan smartphone yang memadai untuk menjalankan aplikasi pekerjaan.
Handphone yang saya gunakan sekarang sudah kurang mendukung untuk kebutuhan tersebut.
Jadi, jika Allah ﷻ memberikan jalan melalui bantuan para Ikhwan, saya berharap bantuan tersebut dapat menjadi modal untuk kembali bekerja.
Saya ingin membeli sarana kerja.
Kemudian saya ingin menggunakannya untuk mencari nafkah.
Jika pada akhirnya Allah ﷻ membukakan jalan melalui pekerjaan lain, insyaallah sarana tersebut tetap akan saya gunakan untuk mendukung ikhtiar mencari nafkah.
Saya Tahu, Banyak Ikhwan Juga Sedang Diuji
Saya ingin mengatakan satu hal dengan jujur.
Saya bukan satu-satunya orang yang sedang kesulitan.
Banyak Ikhwan lain yang mungkin sedang menghadapi ujian yang lebih berat.
Ada yang kehilangan pekerjaan.
Ada yang usahanya jatuh.
Ada yang memiliki hutang.
Ada yang sedang berjuang membayar sekolah anak.
Ada yang kebutuhan rumah tangganya jauh lebih besar daripada pemasukan.
Dan mungkin ada yang tidak sanggup menceritakannya kepada siapa pun.
Saya memahami hal tersebut.
Karena itu saya tidak menulis ini dengan perasaan bahwa saya adalah orang yang paling berhak dibantu.
Tidak.
Saya hanya sedang membuka keadaan saya kepada saudara-saudara sesama Ikhwan.
Barangkali di antara kita ada yang Allah ﷻ beri kelapangan rezeki.
Dan barangkali ada yang sedang mencari kesempatan untuk menyalurkan sebagian hartanya kepada saudara yang membutuhkan.
Maka saya bersedia menerima bantuan tersebut.
Kenapa Saya Menulis Ini?
Karena saya percaya bahwa persaudaraan tidak hanya terasa ketika kita sama-sama lapang.
Justru salah satu bentuk kasih sayang kepada sesama muslim adalah ketika kita peduli kepada saudara yang sedang mengalami kesempitan.
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan ketakwaan.”
QS. Al-Ma’idah: 2“Barang siapa membantu memenuhi kebutuhan saudaranya, niscaya Allah akan membantu memenuhi kebutuhannya.”
HR. Bukhari dan MuslimSaya berharap kisah ini bukan hanya tentang saya.
Saya berharap tulisan ini juga menjadi pengingat bagi kita semua.
Bahwa mungkin di sekitar kita ada saudara yang sedang kesulitan.
Mungkin dia tidak meminta.
Mungkin dia malu.
Mungkin dia masih berusaha menutupi kesulitannya.
Mungkin dia tetap tersenyum ketika bertemu kita.
Tetapi di rumahnya ada kebutuhan yang belum terselesaikan.
Ada anak yang membutuhkan biaya sekolah.
Ada kontrakan yang harus dibayar.
Ada kebutuhan makan yang harus dipikirkan.
Ada kepala keluarga yang setiap malam memikirkan:
“Besok dari mana saya mendapatkan nafkah?”
Semoga kita tidak hanya melihat keadaan saudara kita dari apa yang tampak di luar.
Sedekah, Hadiah, atau Pinjaman
Bagi para Ikhwan yang Allah ﷻ beri kelapangan rezeki dan ingin membantu ikhtiar saya, saya membuka kesempatan untuk menerima bantuan.
Bantuannya boleh dalam bentuk:
Untuk bantuan yang berupa pinjaman, insyaallah akan saya catat secara khusus sebagai amanah yang harus saya kembalikan.
Saya ingin membedakan dengan jelas mana yang merupakan pemberian dan mana yang merupakan pinjaman.
Saya tidak menetapkan nominal tertentu.
Berapa pun yang Allah mudahkan, saya syukuri.
Tidak ada paksaan.
Tidak ada kewajiban.
Dan saya memahami bahwa setiap Ikhwan juga memiliki kebutuhan dan tanggung jawab masing-masing.
Jika Ingin Membantu
Bagi Ikhwan yang ingin membantu, silakan pilih bentuk bantuan di bawah ini. Setelah tombol ditekan, WhatsApp akan terbuka dengan pesan yang sudah disiapkan.
Saya Tidak Ingin Hidup dari Sedekah
Ini penting bagi saya untuk disampaikan.
Saya tidak ingin hidup dari sedekah.
Saya ingin sedekah atau bantuan yang saya terima menjadi jembatan agar saya bisa kembali bekerja.
Saya ingin memiliki kendaraan untuk bekerja.
Saya ingin memiliki smartphone untuk mendukung pekerjaan.
Saya ingin kembali memiliki penghasilan.
Saya ingin membayar kewajiban pendidikan anak-anak.
Dan jika suatu hari Allah ﷻ memberikan kelapangan kepada saya, saya ingin berada kembali di posisi yang mampu membantu orang lain.
Hari ini mungkin saya berada di posisi menerima.
Mudah-mudahan suatu hari nanti Allah ﷻ mengubah keadaan sehingga saya bisa kembali menjadi orang yang memberi.
Untuk Ikhwan yang Sedang Sulit Juga
Saya juga ingin menyampaikan sesuatu kepada Ikhwan yang mungkin sedang mengalami kesulitan.
Jangan merasa sendirian.
Jangan merasa bahwa hanya Anda yang sedang diuji.
Kita semua memiliki ujian masing-masing.
Ada yang diuji dengan kekurangan harta.
Ada yang diuji dengan kehilangan pekerjaan.
Ada yang diuji dengan sakit.
Ada yang diuji dengan masalah keluarga.
Ada yang diuji dengan hutang.
Dan ada yang diuji dengan sesuatu yang tidak diketahui oleh siapa pun.
Semoga Allah ﷻ memberikan kesabaran kepada kita semua.
Sebab hidup ini memang bukan tempat untuk selamanya merasa nyaman.
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
QS. Al-Insyirah: 5–6Maka saya ingin terus berusaha.
Saya ingin terus mengetuk pintu-pintu rezeki yang halal.
Dan saya ingin tetap berbaik sangka kepada Allah ﷻ.
Saya Hanya Ingin Kembali Berdiri
Jika Allah ﷻ mudahkan, saya ingin memiliki motor.
Saya ingin memiliki smartphone yang mendukung pekerjaan.
Saya ingin kembali bekerja.
Saya ingin menyelesaikan kewajiban pendidikan anak-anak.
Saya ingin memenuhi kebutuhan keluarga.
Saya ingin kembali memiliki penghasilan.
Dan saya ingin suatu hari nanti dapat melihat kembali masa sulit ini sebagai bagian dari perjalanan hidup yang telah Allah ﷻ lewatkan untuk saya.
Saya tidak meminta kehidupan mewah.
Saya tidak meminta hidup tanpa ujian.
Saya hanya berharap mendapatkan kesempatan untuk kembali berusaha.
Jika ada saudara yang Allah ﷻ beri kelapangan dan ingin membantu, saya menerimanya dengan rasa syukur.
Jika ada yang tidak mampu membantu secara materi, tidak mengapa.
Doa yang baik juga merupakan kebaikan.
Jika ada yang hanya bisa membaca tulisan ini lalu mendoakan saya dan keluarga, saya pun sudah berterima kasih.
Karena saya memahami:
Semoga Kita Tidak Hanya Peduli Ketika Sudah Terlihat
Mungkin ini pesan terbesar yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini.
Mari kita belajar melihat saudara kita dengan lebih dekat.
Bukan hanya ketika dia meminta.
Bukan hanya ketika dia sudah jatuh.
Bukan hanya ketika masalahnya sudah terlihat.
Tetapi mari belajar saling memperhatikan.
Karena mungkin ada Ikhwan di sekitar kita yang sedang berjuang dalam diam.
Mungkin dia tidak ingin mengeluh.
Mungkin dia menjaga kehormatannya.
Mungkin dia hanya membutuhkan sedikit bantuan agar bisa kembali berdiri.
Dan mungkin bantuan yang bagi kita terasa kecil, bagi dia merupakan jalan keluar yang sangat besar.
Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk mencintai saudara kita sebagaimana kita mencintai diri sendiri.
Maka semoga kita tidak hanya sibuk memikirkan bagaimana diri kita selamat.
Tetapi juga belajar bertanya:
“Apakah saudara saya baik-baik saja?”
Mohon Bantu Bagikan Tulisan Ini
Jika setelah membaca tulisan ini ada Ikhwan yang mengenal saya, pernah bertemu dengan saya, atau mengenal keluarga kami, saya mohon bantuan untuk membagikan tulisan ini kepada orang-orang yang mungkin bisa membantu.
Boleh melalui WhatsApp.
Boleh melalui Facebook.
Boleh melalui Telegram.
Boleh melalui grup-grup Ikhwan yang menurut Anda tepat.
Saya tidak mewajibkan siapa pun untuk memberikan bantuan materi.
Jika belum mampu membantu secara materi, tidak mengapa.
Bahkan jika hanya mampu membantu dengan doa dan menyebarkan informasi ini kepada orang lain, saya sudah sangat menghargainya.
Semoga Allah ﷻ menjadikan penyebaran tulisan ini sebagai sebab hadirnya manfaat bagi orang lain dan memberikan pahala kepada siapa pun yang ikut membantu dalam kebaikan.
Barangkali tulisan ini sampai kepada seseorang yang Allah ﷻ beri kelapangan rezeki.
Barangkali ada yang memiliki pekerjaan untuk saya.
Barangkali ada yang memiliki kendaraan yang bisa membantu saya memulai pekerjaan.
Barangkali ada yang bisa membantu dalam bentuk sedekah, hadiah, atau pinjaman.
Atau barangkali ada jalan lain yang belum terpikirkan oleh saya.
Saya serahkan semuanya kepada Allah ﷻ.
Penutup
Saya, Adda Mubarak, hanyalah seorang kepala keluarga yang sedang berusaha melewati satu fase sulit dalam kehidupan.
Saya pernah bekerja bertahun-tahun di Arab Saudi.
Saya pernah memiliki motor.
Saya pernah memiliki handphone.
Saya pernah berusaha melalui jualan bakso ikan.
Ada yang berhasil.
Ada yang belum berhasil.
Ada yang hilang.
Ada yang harus saya mulai kembali dari nol.
Maka saya ingin menggunakan kesempatan itu.
Saya ingin kembali bekerja.
Saya ingin mencari nafkah.
Saya ingin menjaga keluarga.
Saya ingin mendidik anak-anak.
Dan saya ingin, dengan izin Allah ﷻ, kembali berada pada posisi yang bisa membantu orang lain.
Semoga Allah ﷻ membuka jalan keluar bagi saya dan keluarga.
Semoga Allah ﷻ memberikan rezeki kepada seluruh Ikhwan yang sedang mengalami kesulitan.
Semoga Allah ﷻ melapangkan rezeki orang-orang yang membantu saudaranya.
Dan semoga Allah ﷻ menjadikan kita umat yang saling menguatkan dalam kebaikan, saling menjaga kehormatan, dan saling peduli dalam keadaan lapang maupun sempit.
Jazakumullahu khairan kepada siapa pun yang telah membaca tulisan ini sampai selesai.
Semoga Allah ﷻ membalas setiap kebaikan dengan balasan yang jauh lebih baik.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
13 September 2026
posting terkait:
- Kadang, Yang Membantu Juga Sedang Membutuhkan
- Kisah Adda Mubarak: Agen Baso Ikan Sinar Bahari di Cileungsi, dari Gerobak Kecil Menyambung Silaturahmi Rasa
- Wasillah Sehat dengan Djamoe Alami – Cileungsi Bogor
- Jangan Menyesali Kebaikan: Menyeimbangkan Pembangunan Masjid dan Kepedulian Sosial
- Berbagi Secara Sederhana, Dari Yang Kita Mampu
- Kenapa Kami Pilih Bakso Ikan untuk Keluarga Kita
- Memilih Jalan Berkah – Beli Motor Dan Rumah Tanpa Riba
- Panduan Adab Mempekerjakan Sopir yang Baik
- Peduli Sesama dan Menjaga Amanah: Kisah Nyata di Lingkungan Hijrah
- Sedekah: Amalan Ringan, Pahala Besar
- Belum Banyak Orang Tua di Cileungsi Mengetahui Manfaat Baso Ikan Sinar Bahari untuk Keluarga
- Sejarah Singkat Radio Rodja
- Tawakkal dan Ikhtiar: Menjaga Keseimbangan Dalam Mencari Rezeki
- Parfum Lokal Premium Segera Hadir di IkhwanPeduli.com
- Perbedaan Praktik Ibadah Qurban di Arab Saudi dan Indonesia Ditinjau dari Syariat Islam
- Ketika Anak Berjuang Mengikuti Tes Masuk UGM: Antara Ikhtiar, Doa, dan Tawakal
- Menikmati Kelezatan Otentik Baso Ikan Sinar Bahari Bandung, Kini Hadir di Cileungsi!
- Proses Ta’awun dalam Penawaran Sebidang Tanah
- Program Umroh New Season 1448 H / 2026 – 2027: Wujudkan Impian Hubungi Kang Adda Mubarak
- KIPROK FU, SATPAM MUTIS, DAN SEORANG IKHWAN
- Berkah Totok Punggung: Dokter Temukan Jalan Kesembuhan dari Allah
