KIPROK FU, SATPAM MUTIS, DAN SEORANG IKHWAN
Hari itu saya hendak berangkat ke tempat belajar kerja.
Sejak awal perjalanan, Suzuki SkyDrive saya sudah menunjukkan gelagat seperti akan mogok.
Benar saja.
Di tengah perjalanan, motor akhirnya mati.
Saya coba starter lagi. Mesin memang hidup, tetapi beberapa detik kemudian mati kembali.
Bensin ada.
Busi baru.
Tapi motor tetap saja tidak mau diajak kompromi.
Akhirnya saya turun dan menuntun motor.
Puluhan meter saya dorong.
Capek? Tentu saja.
Sampai akhirnya saya melewati sebuah sekolah, Mutiara Islam, atau yang biasa dikenal dengan MUTIS.
Dengan cepat beliau bertanya,
“Kenapa motornya, Pak? Kok dituntun?”
“Mogok, Pak.”
Saya kemudian bertanya,
Beliau menjawab,
Bapak satpam itu kemudian menyeru seseorang ke sebuah rumah yang awalnya saya kira bukan bengkel.
Tidak lama kemudian, muncul seorang ikhwan. Kami bersalaman.
Saya ceritakan kondisi motor saya.
Motor kemudian dibongkar dan diperiksa.
Setelah didiagnosis, barulah diketahui penyebabnya.
Ilmu yang dipelajari sejak remaja
Ikhwan yang membantu saya ini ternyata bukan pemilik bengkel besar. Bahkan tempatnya pun belum memiliki nama bengkel.
Namun beliau sudah mengenal dunia perbengkelan sejak masih remaja.
Lahir pada tahun 1977, beliau mulai belajar memperbaiki motor dengan mengikuti kakaknya sejak tahun 1992.
Saat itu usianya baru sekitar 15 tahun.
Berarti, hingga tahun 2026, sekitar 34 tahun pengalaman telah dilaluinya dalam dunia permesinan dan kelistrikan motor.
Mungkin pengalaman puluhan tahun itulah yang membuatnya mampu menemukan solusi ketika kiprok yang kami beli ternyata bukan khusus untuk Suzuki SkyDrive.
Ikhwan tersebut kemudian meminjamkan motornya kepada saya dan Abdul untuk membeli kiprok.
Kami menuju arah keluar Matland. Di sebuah pertigaan, ada Alfamart dan toko sparepart motor.
“Ada.”
Beliau kemudian masuk ke bagian belakang toko.
Beberapa menit kemudian, muncul membawa barang yang saya cari.
Harganya Rp50.000.
Saya dan Abdul segera kembali ke tempat si ikhwan.
Kiprok kemudian dipasang.
Tetapi setelah terpasang, kok terasa panas?
Saya perhatikan kembali kemasannya.
Barulah saya sadar.
Saya yang salah.
Terburu-buru membeli karena hari sudah semakin sore. Sebentar lagi Maghrib. Barang langsung dibayar, lalu pergi tanpa membaca kemasannya dengan teliti.
Namun di sinilah saya melihat sebuah pelajaran.
Ikhwan tersebut memahami kelistrikan motor. Kiprok yang bukan khusus untuk SkyDrive itu kemudian diakali agar dapat digunakan.
Dan ternyata berhasil.
Kiprok terpasang.
Motor kembali normal.
Sekarang tinggal memasang seluruh cover atau penutup motor.
Memang bukan kiprok asli.
Kalau kiprok ORI khusus SkyDrive, harganya bisa ratusan ribu rupiah.
Saya kemudian bertanya,
“Lima puluh ribu.”
“Tidak kemahalan?”
Saat itu saya membuka aplikasi Bank Jago dan mengetikkan nominal pembayaran.
Namun saya tidak memasukkan Rp50.000.
Saya lebihkan.
“Lho, kok dilebihkan, Pak?”
Saya tidak banyak berkata.
Kami kemudian mengobrol ringan.
Saling bertanya tentang alamat, usia, dan hal-hal sederhana lainnya.
Tidak lama kemudian, terdengar suara adzan berkumandang.
Alhamdulillah.
Problem motor selesai.
Saya pun pamit dan melanjutkan perjalanan.
Besoknya saya masih akan melewati jalan itu lagi.
Bukan lagi untuk mencari bengkel.
Saya akan menuju tempat belajar kerja, belajar menguasai ilmu memotong kain di sebuah konveksi.
Saya bisa sampai ke konveksi tersebut karena dipanggil oleh Akhi Deden, wakil Pak Haji, pemilik beberapa konveksi yang mempekerjakan puluhan, bahkan ratusan karyawan.
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
QS. Asy-Syarh: 5–6Motor mogok.
Tapi perjalanan tetap berlanjut.
Bahkan mungkin, dari situlah saya mendapatkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar motor yang kembali hidup:
Wassalamu’alaikum.
