Dari Wiridan Mushalla Menuju Adzkar Ash-Shabah
Kisah perjalanan seorang admin Ikhwan Peduli, dari lingkungan pesantren sebelum Juni 2002, hingga mulai mengenal dan menelaah Sunnah Rasulullah ﷺ di Arab Saudi.
Ada sebuah fase dalam perjalanan hidup seseorang yang mungkin tidak banyak diketahui oleh orang lain.
Sebelum mengenal lebih jauh berbagai pembahasan tentang Sunnah, ia pernah tumbuh dan belajar dalam lingkungan pesantren yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama.
Di sanalah ia belajar agama.
Di sanalah ia mengenal Al-Qur’an, hadits, fiqih, adab, dan berbagai amalan yang diajarkan oleh para guru.
Karena itulah, ketika berada di tengah masyarakat, ia pun mengamalkan apa yang telah dipelajarinya.
Duduk Bersama Setelah Shubuh
Di sebuah mushalla, setelah Shalat Shubuh selesai, ia terbiasa memimpin para makmum untuk berdzikir bersama.
Salah satu bacaan yang sangat familiar adalah:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
Dibaca sebanyak 100 kali.
Saat itu, ia tidak sedang berpikir tentang kelompok atau label.
Ia hanya menjalankan apa yang dahulu diajarkan dan dibiasakan kepadanya.
Baginya, mengucapkan kalimat tauhid adalah sesuatu yang baik.
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah.
Kalimat yang sangat agung. Kalimat yang menjadi inti dakwah seluruh para nabi.
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan
yang berhak diibadahi selain Allah.”
QS. Muhammad: 19
Juni 2002: Sebuah Perjalanan Dimulai
Kemudian tibalah sebuah perubahan besar dalam kehidupannya.
Pada Juni 2002, ia berangkat ke Arab Saudi untuk bekerja.
Perjalanan itu bukan hanya perjalanan mencari nafkah.
Tanpa disadari, perjalanan tersebut juga menjadi salah satu pintu yang mempertemukannya dengan lingkungan, kitab, kajian, dan pembahasan agama yang lebih luas.
Dari “Baik” Menjadi “Benarkah Ini Tuntunan Nabi ﷺ?”
Ia mulai memahami bahwa dalam ibadah, niat baik saja belum cukup.
Seorang Muslim tentu ingin beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya.
Namun ibadah juga membutuhkan tuntunan.
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini
sesuatu yang bukan darinya, maka amalan tersebut tertolak.”
HR. Bukhari dan Muslim
Hadits tersebut membuatnya mulai belajar melihat ibadah dari sudut pandang yang berbeda.
Bukan berarti semua yang dahulu ia lakukan harus langsung dianggap salah.
Bukan pula berarti guru-gurunya dahulu tidak mengajarkan kebaikan.
Justru ia semakin memahami bahwa menghormati guru dan mencari kebenaran berdasarkan dalil adalah dua hal yang tidak harus dipertentangkan.
Ternyata Tahlil 100 Kali Memiliki Dalil
Dalam proses belajar itu, ia kembali menemukan sesuatu yang menarik.
Ternyata membaca:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
sebanyak 100 kali dalam sehari memiliki keutamaan yang sangat besar dalam hadits yang sahih.
Nabi ﷺ menjelaskan keutamaannya: mendapatkan pahala seperti memerdekakan sepuluh budak, dicatat seratus kebaikan, dihapus seratus kesalahan, dan menjadi perlindungan dari setan hingga sore.
Di sini ia belajar satu perkara penting:
Dzikirnya benar.
Tetapi ketika membicarakan sebuah ibadah, masih ada pertanyaan lain:
Kapan waktunya?
Berapa jumlahnya?
Bagaimana cara melakukannya?
Apakah Rasulullah ﷺ menetapkan semuanya demikian?
Bukan Meninggalkan Dzikir, Tetapi Memperbaiki Cara Berdzikir
Seiring waktu, ia mulai mengenal Adzkar Ash-Shabah, dzikir-dzikir pagi yang bersumber dari tuntunan Nabi ﷺ.
Ia kemudian memahami bahwa setelah Shalat Shubuh terdapat banyak amalan yang sangat indah.
Ada istighfar.
Ada dzikir setelah shalat.
Ada Ayat Kursi.
Ada Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas.
Ada tahlil.
Ada doa.
Ada membaca Al-Qur’an.
Dan ada pula anjuran untuk tetap berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit.
Duduk Berdzikir Sampai Matahari Terbit
Ia kemudian menemukan keutamaan yang sangat indah.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang orang yang Shalat Shubuh berjamaah kemudian duduk berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, lalu melaksanakan dua rakaat, mendapatkan pahala seperti haji dan umrah.
Hadits tersebut diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dinilai hasan oleh sejumlah ulama.
Maka waktu setelah Shubuh ternyata bukan sekadar waktu untuk menyelesaikan wiridan.
Ia adalah waktu yang sangat berharga.
Waktu untuk mengingat Allah.
Membaca Al-Qur’an.
Berdoa.
Beristighfar.
Mempelajari agama.
Dan menenangkan hati sebelum memulai aktivitas dunia.
Dulu Memimpin Wiridan, Kini Belajar Mengikuti Sunnah
Perjalanan itu akhirnya mengajarkan sebuah pelajaran besar.
Dahulu ia terbiasa memimpin wiridan.
Kini ia lebih banyak berusaha mengikuti tuntunan yang datang dari Rasulullah ﷺ.
Namun satu hal tidak berubah:
Kecintaan kepada dzikir.
Bahkan semakin memahami Sunnah, seharusnya seorang Muslim semakin mencintai dzikir.
Sebab tujuan akhirnya bukan memenangkan perdebatan.
Bukan membuktikan kelompok mana yang paling benar.
Bukan pula merendahkan orang yang dahulu berbeda dengan dirinya.
Tujuannya adalah beribadah kepada Allah dengan cara yang paling dicintai-Nya.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik
bagi kalian.”
QS. Al-Ahzab: 21
Sebuah Nasihat untuk Diri Sendiri
Perjalanan mencari Sunnah tidak seharusnya membuat seseorang menjadi kasar.
Justru semakin mengenal akhlak Rasulullah ﷺ, seharusnya semakin lembut lisannya.
Jika dahulu pernah melakukan sesuatu karena mengikuti guru, jangan mencela guru.
Jika dahulu belum mengetahui suatu dalil, jangan malu untuk belajar.
Jika hari ini mengetahui sesuatu yang lebih kuat berdasarkan dalil, jangan merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Sebab ilmu seharusnya melahirkan tawadhu’, bukan kesombongan.
Dan perjalanan menuju Sunnah bukanlah perjalanan untuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Ia adalah perjalanan untuk memperbaiki diri.
Semakin dekat seseorang kepada Sunnah Rasulullah ﷺ, seharusnya semakin dekat pula ia kepada tauhid, ilmu, kesabaran, kasih sayang, dan akhlak yang mulia.
Karena mengikuti Rasulullah ﷺ bukan hanya tentang bagaimana kita berdzikir.
Tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan manusia.
