Catatan Admin: Obrolan Subuh Bersama Seorang Terapis dan Ironi Makanan “Beracun”

Ironi Makanan Mahal vs Berobat Gratisan

Catatan Admin: Obrolan Subuh Bersama Seorang Terapis dan Ironi Makanan “Beracun”

Oleh: Admin IkhwanPeduliKategori: Kesehatan Umat

Bismillah. Pagi tadi, selepas menunaikan shalat subuh, saya berkesempatan bertemu dan “bersilaturahmi” dengan seorang ikhwan. Beliau adalah seorang praktisi yang sehari-harinya biasa menterapi orang sakit.

Setelah bersalaman dan saling bertukar kabar, obrolan kami mengalir santai namun perlahan mulai masuk ke pembahasan yang cukup mendalam. Sampai pada satu kalimat sentilan dari beliau yang seketika membuat saya termenung:

“Orang Indonesia itu, giliran atau pas sakit maunya rumah sakit yang gratis. Tapi pas giliran makanan, dia rela antre panjang padahal makanan itu mahal dan ‘beracun’ buat badannya.”

Kalimat sederhana, tapi rasanya seperti tamparan keras bagi realita masyarakat kita saat ini. Jika kita bedah apa yang disampaikan oleh ikhwan terapis tadi, ada sebuah ironi besar yang sedang melanda pola pikir kita:

1. Rela Mengantre Demi “Racun” yang Mahal

Kita hidup di zaman di mana kuliner sering kali bukan lagi soal gizi, melainkan soal tren, gengsi, dan rasa penasaran (FOMO).

  • Minuman tinggi gula, makanan cepat saji, atau kuliner viral yang tinggi penyedap sering kali dijual dengan harga yang tidak murah.
  • Namun anehnya, banyak orang rela meluangkan waktu berjam-jam, berdiri dalam antrean panjang, dan merogoh kocek dalam-dalam demi kenikmatan lidah yang sifatnya hanya sesaat. Kita rela membayar mahal untuk sesuatu yang sebenarnya—secara jangka panjang—merusak tubuh sendiri.

2. Menuntut “Gratisan” Ketika Tubuh Mulai Tumbang

Ironi kedua muncul saat tubuh yang terus-menerus diberi asupan kurang sehat itu akhirnya “mogok” alias jatuh sakit. Di titik ini, pola pikir kita mendadak berbalik:

  • Kita mencari pengobatan atau rumah sakit yang kalau bisa sepenuhnya gratis.
  • Kita menuntut kesembuhan yang instan tanpa mau repot.

Tentu, memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis atau bersubsidi adalah hak setiap orang. Namun yang menjadi masalah adalah ketidakadilan kita terhadap tubuh sendiri. Kita begitu royal dan jor-joran mengeluarkan modal untuk merusak tubuh lewat makanan tidak sehat, tetapi mendadak menjadi sangat perhitungan ketika harus merawat atau mengobatinya.

Mengembalikan Amanah Tubuh ke Jalan yang Thayyib

Sebagai seorang terapis, ikhwan yang saya temui tadi tentu sudah kenyang melihat berbagai jenis penyakit yang datang akibat muara dari pola makan yang salah.

Tubuh ini adalah titipan dan aset utama kita untuk beribadah serta mencari nafkah. Islam pun telah mengajarkan kita untuk tidak hanya mencari yang halal, tetapi juga yang thayyib (baik, sehat, dan bermanfaat bagi tubuh).

Sudah saatnya kita mengubah kebiasaan keliru ini. Mari kurangi keinginan untuk ikut-ikutan mengantre makanan yang kurang sehat, dan mulai investasikan harta kita untuk makanan yang bersih alami serta rutin menjaga kebugaran sebelum penyakit datang. Mencegah jauh lebih tenang dan penuh berkah.

Peringatan: Harap berhati-hati dalam setiap transaksi. Admin tidak bertanggung jawab atas kesalahan atau penipuan yang dilakukan pihak lain.