Menjaga Kejujuran

Menjaga Kejujuran di Tengah Ujian Kehidupan

Ada seorang hamba Allah yang baru saja kembali ke Indonesia setelah beberapa waktu bekerja di Arab Saudi sebagai sopir. Ia pulang membawa visa kembali, namun majikannya memberi pilihan yang sangat terbuka: jika istrimu mendorong untuk tetap tinggal bersama keluarga di Indonesia, maka tinggallah bersama mereka. Ungkapan itu membuatnya merasa dimuliakan dan dipersilakan menentukan langkah hidup dengan tenang.

Setelah menetap di Cileungsi bersama keluarga, ia berikhtiar mencari pekerjaan baru. Ia bertanya kepada saudara-saudara seiman di masjid yang sering ia hadiri. Ia tidak ingin hanya menunggu, ia berusaha. Ia melaksanakan shalat sunnah pada malam hari, berdoa, berdzikir, memohon agar Allah memberi jalan rezeki yang baik dan halal.

Hingga menjelang subuh, salah seorang ikhwan mengirim pesan berisi informasi tentang seseorang yang membutuhkan sopir. Namanya Budi Santoso. Ia dikenal bekerja di lembaga negara dan memiliki penghasilan yang baik. Percakapan awal berlangsung sangat hangat. Ada apresiasi atas pengalaman bekerja di Arab Saudi, bahkan muncul wacana bahwa ia juga bisa mengajarkan sedikit bahasa Arab kepada anak calon majikan. Saat ditanya mengenai gaji yang diinginkan, ia menjawab seikhlasnya, dan calon majikan menawarkan gaji lebih dari cukup. Pada saat itu ia bersujud syukur.

Namun perjalanan rizki tidak selalu lurus tanpa ujian. Tiga bulan sebelum itu, ia kehilangan sepeda motor akibat dicuri. Hal itu menyebabkan ia harus menggunakan ojek online untuk datang ke rumah calon majikan. Ia menyampaikan kondisi ini apa adanya, tanpa dibuat-buat, sebab ia memegang prinsip bahwa rezeki yang diberkahi adalah rezeki yang tidak dibangun di atas kepura-puraan.

Di sinilah ujian itu terlihat. Sang calon majikan menanggapi bahwa cara menuju ke rumah adalah urusan pribadi, bukan tanggung jawabnya. Di satu sisi, itu bisa dilihat sebagai penegasan standar kerja. Namun di sisi lain, ucapan itu terasa berat, terlebih ketika ia sedang dalam keadaan lemah dan menjaga kejujuran.

Setelah itu, diketahui pula bahwa Surat Izin Mengemudi yang ia miliki telah habis masa berlakunya. Hal ini sebenarnya sudah ia sampaikan kepada perantara, namun belum diteruskan kepada calon majikan. Saat informasi tersebut sampai, sikap calon majikan berubah, dan ajakan pertemuan kembali disampaikan, namun rasa kecewa dan hilangnya semangat sudah terlanjur muncul di dalam hatinya.

Pelajaran Berharga

Pengalaman ini menghadirkan pelajaran berharga:

  1. Kejujuran tidak selalu mendatangkan kemudahan segera, tetapi ia mendatangkan ketenangan hati dan keberkahan. Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan bahwa jujur membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga. Sedangkan dusta membawa kepada keburukan.
  2. Rizki berada di tangan Allah, bukan di tangan manusia. Mungkin satu pintu tertutup bukan karena kita tidak pantas, tetapi karena Allah sedang menyiapkan pintu lain yang lebih sesuai dan lebih baik untuk agama dan kehidupan kita.
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan (QS. Asy-Syarh: 6)
  1. Menjaga kehormatan diri adalah bagian dari adab. Terkadang seseorang diberikan pilihan antara memaksa diri demi sebuah harapan atau menjaga harga diri dan bertawakal. Dalam kisah ini, ia memilih untuk tetap menjaga ketenangan hati, tidak memaksa, tidak memohon-mohon, dan tidak menyalahkan siapa pun.
  2. Ujian ini bukan akhir, melainkan bagian dari perjalanan menuju kematangan jiwa, tawakal, dan kedekatan kepada Allah.

Penutup

Kisah ini bukan untuk menilai seseorang. Bukan pula untuk menghakimi. Ia adalah perjalanan hati seorang hamba yang sedang belajar memahami ketentuan Allah dalam hidupnya, sambil tetap berpegang pada akhlak yang diajarkan Rasulullah: kejujuran, kesabaran, keteguhan hati, dan tawakal.

Semoga Allah membuka pintu rezeki yang lebih baik, memperbaiki keadaan keluarga, dan menggantikan kesedihan dengan ketenangan.

Aamiin.