Tanggapan Akidah: Mengurai Kembali Sejarah dan Metodologi Akidah Islam

Tanggapan Akidah: Mengurai Kembali Sejarah dan Metodologi Akidah Islam – IkhwanPeduli.com

Tanggapan Akidah: Mengurai Kembali Sejarah dan Metodologi Akidah Islam

Situs: IkhwanPeduli.com

Penulis: Tim Redaksi IkhwanPeduli

Tema: Klarifikasi Ilmiah tentang Akidah Asy‘ariyah-Maturidiyah dan Manhaj Salaf

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dalam beberapa waktu terakhir, beredar klaim bahwa akidah Asy‘ariyah dan Maturidiyah identik dengan akidah Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Sebagai situs yang berkomitmen menyajikan ilmu sesuai manhaj salaf, kami merasa perlu memberikan klarifikasi ilmiah agar umat tidak terjebak dalam kesimpulan yang keliru historis maupun metodologis.

1. Asal-Usul dan Konteks Historis yang Terlupakan

Asy‘ariyah dan Maturidiyah memang lahir di tengah pergolakan pemikiran Islam abad ke-3 dan ke-4 Hijriyah. Namun, perlu dipahami bahwa mereka muncul setelah generasi salaf, dan menggunakan metode ilmu kalam yang diadopsi dari logika Yunani. Metode ini tidak dikenal oleh Rasulullah ﷺ, para sahabat, maupun tabi‘in.

“Hukumanku terhadap ahli kalam adalah mereka dipukul dengan pelepah kurma, diarak di antara kabilah-kabilah, dan diserukan: ‘Inilah balasan orang yang meninggalkan Al-Qur‘an dan Sunnah lalu beralih kepada ilmu kalam’.”

Imam Asy-Syafi‘i rahimahullah (wafat 204 H) — Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam Tabyin Kadzib al-Muftari

2. Perbedaan Metodologi yang Fundamental

Manhaj Salaf dalam Sifat Allah:

  • Menerima nash sebagaimana datang tanpa takwil
  • Tanpa takyīf (mempertanyakan kaifiyah/bagaimana)
  • Tanpa tamtsīl (menyerupakan dengan makhluk)
  • Tanpa ta‘thīl (menolak/menafikan sifat)

Contoh:
Ketika Allah menyebutkan “Tangan” (yad), salaf mengimaninya sebagai sifat hakiki yang sesuai dengan keagungan Allah, tanpa menyerupakannya dengan tangan makhluk.

Manhaj Asy‘ariyah-Maturidiyah:

  • Melakukan takwil terhadap sebagian sifat Allah
  • Menggunakan dalil aqli sebagai pijakan utama dalam beberapa masalah
  • Menganggap zhahir nash harus dita‘wil jika dianggap bertentangan dengan akal

Contoh kontras:

  • Salaf: “Istawa‘ ‘ala al-‘Arsy” = Allah bersemayam di atas ‘Arsy sesuai keagungan-Nya
  • Asy‘ariyah: “Istawa‘” ditakwil dengan “Istala‘” (menguasai)

3. Klaim “Mayoritas Ulama” Perlu Dikritisi

Memang benar banyak ulama madzhab fikih yang disebut sebagai Asy‘ari atau Maturidi dalam akidah. Namun, penting untuk membedakan antara:

  • Ulama yang benar-benar konsisten dengan metode kalam Asy‘ari
  • Ulama yang hanya dinisbatkan karena faktor zaman dan lingkungan, padahal akidahnya lebih dekat kepada salaf

“Madzhab salaf… mereka mengatakan: Kita mengimaninya sebagai kebenaran sesuai zhahirnya, dan kita menyerahkan makna sebenarnya kepada Allah.”

Imam An-Nawawi rahimahullah (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim

4. Tuduhan “Mujassimah” terhadap Salaf Adalah Kedustaan

Klaim bahwa salaf adalah Mujassimah (antropomorfis) adalah tuduhan yang telah dibantah oleh ulama sendiri.

“Barangsiapa yang menyangka bahwa salaf berkeyakinan tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk), maka dia telah berdusta atas nama mereka.”

Imam Adz-Dzahabi rahimahullahAl-‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghaffar

Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
— QS. Asy-Syura: 11

Ayat ini adalah pedoman salaf: menetapkan sifat tanpa menyerupakan.

5. Bagaimana dengan Al-Azhar dan Institusi Lain?

Benar bahwa Al-Azhar dan beberapa institusi Islam menganut akidah Asy‘ari. Namun, ini bukan bukti kebenaran, melainkan bukti sejarah tentang dominasi pemikiran kalam di era tertentu.
Kebenaran tidak diukur dengan jumlah pengikut, tetapi dengan kesesuaian terhadap Al-Qur‘an, Sunnah, dan pemahaman salaf.

6. Kesimpulan: Kembali kepada Manhaj yang Terjamin Kebenarannya

  1. Akidah yang benar adalah akidah Rasulullah ﷺ dan para sahabat, yang kemudian dikenal sebagai manhaj salaf
  2. Asy‘ariyah dan Maturidiyah adalah produk ijtihad manusia dalam bidang akidah yang mengandung kesalahan metodologis dalam beberapa aspek
  3. Tidak tepat menyamakan akidah mutakallimin (ahli kalam) dengan akidah salaf
  4. Kewajiban kita adalah mengkaji akidah dari sumbernya yang murni: Al-Qur‘an, Sunnah, dan pemahaman salafus shalih

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian yang setelah mereka, kemudian yang setelah mereka.”

Rasulullah ﷺ — HR. Al-Bukhari dan Muslim

Generasi terbaik ini tidak mengenal ilmu kalam, takwil sifat, atau debat filosofis tentang Allah. Mereka beriman dengan sederhana dan mendalam.

7. Rekomendasi Kajian Lanjutan

Bagi yang ingin mendalami akidah salaf, kami rekomendasikan:

  • Lum‘atul I‘tiqad karya Ibnu Qudamah Al-Maqdisi
  • Al-‘Aqidah Al-Wasithiyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
  • Syarh Al-‘Aqidah At-Thahawiyah dengan takhrij Al-Albani
  • Kitab At-Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahhab

Penutup

Wahai saudaraku, kebenaran dalam akidah adalah pondasi agama. Jangan mudah terpukau dengan klaim “mayoritas” atau “institusi besar”. Kembalilah kepada sumber yang dijamin Rasulullah ﷺ:

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku.”

Rasulullah ﷺ — HR. Malik dalam Al-Muwaththa‘

Semoga Allah ﷻ menunjuki kita semua kepada kebenaran dan mempersatukan hati kita di atasnya.

Tanda Tangan
Tim Redaksi IkhwanPeduli.com
Menyajikan ilmu dengan manhaj salaf