Bantahan Tuntas Terhadap Tuduhan Tajsim pada Salafi

Bantahan Tajsim pada Salafi

BANTAHAN TUNTAS TERHADAP TUDUHAN TAJSIM PADA SALAFI

Menjawab Syubhat dengan Ilmu dan Dalil

MUKADIMAH

Sebagian orang, karena kurang memahami manhaj para ulama salaf, menuduh Salafi atau Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai mujassimah — menjasmanikan Allah. Tuduhan ini tidak baru. Ia hanyalah pengulangan syubhat lama yang dibangun di atas tiga pilar rapuh:

  1. Kesalahpahaman terhadap prinsip aqidah salaf dalam menyikapi sifat-sifat Allah
  2. Pengutipan dalil dan ucapan ulama secara parsial dan tidak jujur
  3. Penggunaan logika filsafat sebagai timbangan dalam memahami nash-nash syar’i

Mari kita jawab tuduhan ini dengan jernih dan ilmiah.


PRINSIP DASAR AQIDAH SALAF

Kami meyakini:

  • Menetapkan semua sifat Allah sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an dan Hadits yang sahih
  • Tanpa tamtsil (tidak menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)
  • Tanpa ta’thil (tidak menolak atau mengingkari sifat-Nya)
  • Tanpa takyif (tidak membayangkan bagaimana bentuk atau hakikat-Nya)
  • Tanpa tahrif (tidak merubah makna lafaz syar’i)

Inilah jalan para imam besar seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan seluruh ulama Ahlus Sunnah.

MENJAWAB SYUBHAT UTAMA

1. “Benarkah Salafi Mengatakan Allah Punya Jari?”

Kami beriman sebagaimana Nabi ﷺ beriman. Dalam Shahih Bukhari no. 7411, disebutkan bahwa seorang Yahudi menyampaikan bahwa:

“Allah meletakkan langit di atas satu jari, bumi di atas satu jari…”

Lalu Nabi ﷺ membenarkan dengan tersenyum dan membaca QS. Az-Zumar: 67:

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.”

Jawaban:
Jika ucapan itu batil, tentu Nabi ﷺ akan meluruskannya sebagaimana biasa beliau lakukan. Namun Nabi justru membenarkan dan menegaskan maknanya, bukan menolaknya.
Kami meyakini adanya jari bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya, bukan seperti jari makhluk, tanpa menyerupakan dan tanpa membayangkan bentuknya.

2. Distorsi Terhadap QS. Az-Zumar: 67

Sebagian menafsirkan ayat ini sebagai bantahan terhadap hadits jari. Ini pemaksaan tafsir.
Justru makna ayat sangat jelas:

  • Menegaskan keagungan Allah
  • Mencela manusia yang tidak mengagungkan-Nya sebagaimana mestinya

Dalam Tafsir Ibnu Katsir:

“Mereka tidak mengenal Allah dengan pengagungan yang semestinya.”

Tidak ada penolakan sifat sama sekali dalam ayat ini.

3. Klaim Kontradiksi Ulama

Sebagian mengutip kitab Daf’u Syubah at-Tasybih karya Ibnu al-Jauzi, yang terkesan menolak hadits-hadits sifat.

Jawaban:
Ibnu al-Jauzi memang memiliki kecenderungan menakwil, tetapi beliau bukan rujukan utama dalam bab aqidah.
Pendapat beliau bertentangan dengan aqidah Imam Ahmad, padahal beliau satu madzhab.
Ulama setelahnya seperti Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim telah membantah kekeliruan metodologinya secara ilmiah.

4. Hoaks “Potong Tangan bagi Penetap Sifat”

Klaim bahwa Imam Malik, Syafi’i, atau Ahmad menyuruh potong tangan bagi yang menetapkan sifat adalah kedustaan nyata. Tidak ada satu pun riwayat shahih yang mendukung klaim ini.

MANHAJ SALAF DALAM MENGIMANI SIFAT ALLAH

  1. Menetapkan sifat sebagaimana datangnya dalam dalil
  2. Menafikan penyerupaan atau penggambaran
  3. Mengakui keterbatasan manusia dalam memahami hakikat (kaifiyah) sifat

Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Malik bin Anas:

“Istiwa’ itu maknanya diketahui, bentuknya tidak diketahui, mengimaninya wajib, dan bertanya tentang bentuknya adalah bid’ah.”

PENUTUP: APAKAH NABI DAN SAHABAT JUGA MUJASSIMAH?

Jika menetapkan sifat Allah sesuai nash dianggap sebagai tajsim, maka:

  1. Apakah Nabi ﷺ termasuk mujassim? Karena beliau menyampaikan hadits-hadits tersebut.
  2. Apakah para sahabat seperti Ibnu Abbas juga demikian? Padahal mereka mengimani sifat tanpa menolak dan tanpa menakwil.
  3. Apakah semua imam madzhab termasuk mujassim? Padahal mereka tegas dalam menetapkan sifat-sifat Allah.

Na’udzubillah min dzalik.

Mari kita akhiri dengan firman Allah ﷻ:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
(QS. Ash-Shaffat: 180–182)

Semoga Allah membimbing kita semua kepada ilmu yang benar, hati yang tunduk, dan aqidah yang selamat.

Ditulis oleh: Adda Mubarak


Peringatan: Harap berhati-hati dalam setiap transaksi. Admin tidak bertanggung jawab atas kesalahan atau penipuan yang dilakukan pihak lain.