
Hikmah Adanya Orang Fakir dan Miskin dalam Kehidupan
Bismillah.
Di dunia ini sejak dahulu selalu ada orang kaya dan ada orang miskin. Ada yang lahir dalam keluarga berkecukupan, ada yang sejak kecil hidup dalam kekurangan. Ada pula orang yang dahulu kaya lalu jatuh miskin karena musibah, usaha bangkrut, sakit, atau sebab lainnya.
Sebagian orang bertanya:
“Mengapa Allah membiarkan adanya kemiskinan?”
Islam menjelaskan bahwa kehidupan dunia adalah tempat ujian, bukan tempat balasan sempurna.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Kami jadikan sebagian kalian sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kalian bersabar?”
(QS. Al-Furqan: 20)
Karena itu, adanya orang fakir dan miskin memiliki banyak hikmah besar yang sering tidak disadari manusia.
1. Agar Manusia Belajar Tawadhu dan Tidak Sombong
Harta sering membuat manusia lupa diri. Dengan melihat bahwa kehidupan bisa berubah kapan saja, manusia diingatkan agar tidak sombong.
Orang kaya sadar bahwa hartanya hanyalah titipan Allah. Sedangkan orang yang sedang kekurangan belajar bersabar dan bergantung kepada Allah.
Banyak orang yang dahulu hidup kaya lalu jatuh miskin. Sebaliknya, ada pula yang dahulu miskin lalu Allah lapangkan rezekinya.
Ini menunjukkan bahwa dunia tidak tetap.
2. Agar Tumbuh Kasih Sayang dan Tolong-Menolong
Kalau semua manusia kaya, mungkin manusia tidak belajar sedekah, zakat, membantu sesama, dan peduli terhadap penderitaan orang lain.
Dengan adanya orang yang membutuhkan, Allah membuka pintu pahala bagi orang yang mampu.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 2)
Karena itu, seorang muslim tidak boleh meremehkan orang miskin. Bisa jadi mereka menjadi sebab datangnya rahmat Allah kepada masyarakat.
3. Dunia Bukan Tempat Balasan Sempurna
Di dunia, terkadang ada orang saleh yang hidup sederhana, sementara orang zalim justru bergelimang harta.
Hal ini karena dunia bukan ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku melihat ke dalam surga, ternyata kebanyakan penghuninya adalah orang-orang fakir.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Namun perlu diketahui, yang dimaksud adalah orang fakir yang sabar, tidak meminta-minta, dan tetap berpegang teguh pada agama. Islam tidak mengajarkan mencintai kemiskinan, melainkan mengajarkan qana’ah dan bekerja keras.
Hadits ini bukan berarti Islam memerintahkan kemiskinan, tetapi menunjukkan bahwa kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dengan banyaknya harta.
4. Mengingatkan Bahwa Harta Bisa Hilang Kapan Saja
Orang kaya bisa jatuh miskin karena sakit, musibah, atau kehilangan pekerjaan dan usaha.
Karena itu Islam mengajarkan agar manusia tidak bergantung kepada dunia.
Harta hanyalah amanah yang suatu saat bisa diambil kembali oleh Allah.
Maka orang yang diberi kelapangan hendaknya banyak bersyukur, bersedekah, dan membantu sesama sebelum datang hari sulit.
5. Ukuran Kemuliaan adalah Takwa
Dalam Islam, kaya bukan tanda pasti dicintai Allah. Miskin juga bukan tanda pasti dihinakan Allah.
Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.
Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Karena itu:
- Orang kaya diuji dengan rasa syukur dan amanah hartanya.
- Orang miskin diuji dengan kesabaran dan penjagaan kehormatan dirinya.
- Keduanya sama-sama sedang diuji oleh Allah.
Penutup
Yang paling berbahaya bukan miskin harta, tetapi miskin iman dan miskin hati.
Berapa banyak orang sederhana hidup tenang karena dekat dengan Allah. Sebaliknya, tidak sedikit orang berharta tetapi gelisah dan jauh dari ketenangan.
Maka tugas seorang muslim adalah:
- Bersyukur ketika lapang.
- Bersabar ketika sempit.
- Membantu sesama sesuai kemampuan.
- Tidak sombong karena harta.
- Tidak putus asa karena kemiskinan.
Semoga Allah memberi kita hati yang qana’ah, rezeki yang halal dan berkah, serta menjadikan kita hamba yang peduli kepada sesama.
